Mahasiswa Cupid: Prestasi Mahasiswa
Tampilkan postingan dengan label Prestasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prestasi Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

Jadi Koruptor Pop : Cukup!!

ADA lagi satu cara untuk jadi koruptor terkenal. Seorang koruptor yang perawakannya akrab di benak masyarakat sejatinya harus punya kelebihan dibanding koruptor-koruptor lainnya. Kalau bukan seorang presiden, menteri, atau kepala instansi tinggi, tentu media akan enggan meliputnya berlama-lama hingga mengimbangi episode dalam sinetron. Namun, kini semua itu telah berbalik. Dewasa ini tidak lagi pemuka negeri korup saja yang jadi populer di media. Untuk menjadi buah bibir media, cukup menjadi sosok yang ‘senang bernyanyi’.

Istilah ini baru-baru ini akrab di telinga kita kala putra kedua SBY sekaligus Sekjen Partai Demokrat (PD) pernah menyindir M Nazaruddin atau mantan Bendahara Umum PD dengan menyatakan nyanyiannya tidak merdu. M Nazaruddin menuduh beberapa petinggi PD terlibat dalam kasus korupsi Wisma Atlet Sea Games XXVI. Kasus baru ini merebak di telinga masyarakat diiringi media yang ramai meliput setiap episode sinetron yang dibintangi mantan Bendahara Umum PD ini.

Kendati demikian, kasus sejenis bukanlah pertama kali ditemui. Selain Nazaruddin, sebelumnya ada mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komjen Susno Duadji kemudian seorang staf di Direktorat Pajak, Gayus Tambunan yang berhasil menarik perhatian khalayak banyak dengan nyanyian-nyanyiannya yang dianggap tidak merdu.

Dari setiap kasus para ‘koruptor penyanyi’ atau yang lazim disebut sebagai whistle blower ini masyarakat hanya dijadikan penonton setia kendati sempat membangkitkan amuk massa. Media pun sempat menjadikan drama ini sebagai pemicu naiknya rating program televisi dengan tidak ketinggalan meliput setiap episode layaknya tayangan sinetron. Namun, ironisnya nyanyian hanya berujung pada meringkuknya tersangka korupsi di hotel prodeo. Dan mungkin ditambah menjadi koruptor pop yang akrab di mata orang banyak. Alih-alih membuka aib para koruptor kakap atau dalang dari setiap rangkaian kasus tersebut, yang ada masyarakat menjadi mudah amnesia seiring munculnya kasus-kasus baru.

Tuduhan Komjen Susno Duadji ditambah Gayus Tambunan terhadap dalang kleptoisasi ini belum menemukan titik terang hingga kasus baru mencuat kembali di alam Indonesia. Nyanyian yang hanya berujung pada meringkuknya mereka dalam jeruji merupakan preseden yang sangat buruk. Bagaimana tidak? Harapan yang sangat besar telah terformat dalam benak kita, namun apa daya mantra slogan ‘anti korupsi’ rezim penguasa negeri ini seakan kehilangan kesaktiannya.

Masyarakat terperangkap dalam kebimbangan dan kelimpungan. Setiap kasus saling berganti menghiasi media, namun tidak satu pun yang selesai dengan tuntas. Banyak misteri yang masih tersimpan rapi. Bahkan kekuatan mediapun mulai memudar. Saat aktor peniup peluit itu masuk kurungan, media pun mulai diam dan beralih ke cerita baru yang lebih menarik. Siapa sangka ternyata di depan masih saja ada kasus baru yang mirip dengan kasus-kasus di belakangnya. Episode yang tidak barupun dimulai. Ancang-ancang untuk pemberantasan korupsi dimudakan kembali sembari memoles wajah para dalang agar tidak terlihat cacat yang sesungguhnya.

Wajah pemberantasan korupsi di negeri ini telah banyak tercoreng. Inilah yang membuat masyarakat semakin tidak lagi peduli dengan masalah negeri ini. Masyarakat telah pandai menyimpulkan bahwa negeri ini sedang menemui kejatuhannya sehingga sangat jelas krisis multidimensi mempengaruhi mental masyarakat. Tidak ada lagi kepercayaan diri, yang ada kini apatisme yang mulai menggelayuti. Supremasi hukum yang berada pada titik nadir. Krisis kepemimpinan di setiap level. Penegak hukum termasuk lembaga yang dianggap paling bersih seperti KPK semakin diragukan integritas dan kapabilitasnya. Derogasi mental dan karakter dari setiap dimensi negeri ini menambah kegamangan dan pesimisme di kalangan masnyarakat.

Dengan munculnya kasus baru Nazaruddin yang nampak menyimpan rahasia besar di satu sisi menambah coreng muka slogan anti korupsi rezim ini. Di sisi lain harapan akan terkuaknya dalang korupsi di negeri ini terbuka kembali, tapi semuanya tampak masih terhambat. Kasusnya semakin kompleks dan sangat bercabang. Banyak pihak seakan bermain sendiri-sendiri dengan keahliannya masing-masing. Lagi-lagi masyarakat dipaksa berpikir keras dan dibuat pusing ibarat bermain biang lala. Permainan apa lagi yang sedang dilakonkan? Semua masih berada pada tataran pertanyaan dan tampak sulit menemukan jawabannya. 

Indonesia mulai sampai pada tahap negeri para koruptor pop. Koruptornya yang mulai mengalahkan para artis layar kaca. Berlagak menjadi orang paling tahu, bernyanyi dan menyeret nama-nama besar namun semuanya hanya untuk sebuah popularitas. Karena semuanya kosong, bualan, dan isu belaka. Buktinya apa yang dinyanyikan tidak semerdu kala itu. Dalang itu hilang dan tidak pernah diseret namanya. Bahkan receptionist hotel prodeo tidak mencatat nama-nama mereka. Apa yang terjadi? Semuanya diam, biarlah nyanyian itu hanya jadi nyanyian.

Masyarakat sangat menunggu-nunggu akhir cerita Nazaruddin. Semua berharap kasus ini tidak berujung seperti kasus Susno Duadji dan Gayus Tambunan yang hanya menyeret anak kecil dari hiu besar yang masih mengembara bebas di laut lepas. Ini menjadi waktu yang tepat untuk mengembalikan kesaktian slogan antikorupsi rezim SBY. Kepercayaan rakyat akan menjadi taruhannya.

Mungkin keperkasaan itu tidak berarti banyak untuk melanggengkan tahta karena hambatan konstitusi. Namun, seorang pemimpin yang besar tidak hanya akan memikirkan kenaikannya tapi juga memikirkan bagaimana dia turun tahta. Seorang pemimpin besar akan turun tahta dengan pujaan dan pujian yang tak henti-hentinya mengiringinya.

Junius Fernando S Saragih
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
Universitas Padajajaran (Unpad)
Aktivis GmnI Kab. Sumedang

Mahasiswa STAN Bertekad Taklukan Elbrus

Sebanyak empat orang pendaki Indonesia dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) yang tergabung dalam kelompok pecinta alam STAPALA bertekad menaklukan puncak gunung Elbrus (5642 mdpl) yang merupakan gunung tertinggi di Eropa. Mereka adalah Prabu Kusuma Nusa Putra, Eko Santoso, Frassetto Dahniel dan Hifzil Waldy Lahuda.

Meskipun berbadan kecil, tekad dan semangat dari para mahasiswa tersebut sangat tinggi untuk mengibarkan bendera Merah Putih di hamparan padang salju di puncak Elbrus bertepatan dengan Hari Olahraga Nasional, 9 September 2011. Misi yang diemban tim STAN ini adalah untuk mewujudkan peran mahasiswa yang aktif dan dinamis dimana pendakian sebagai sarana dalam pengembangan soft skill & hard skill Sumber Daya Manusia.

Pada tanggal 4 September 2011 tim STAN tiba di Moskow bertepatan dengan Hari Ulang Tahun kota Moskow ke-864. Sebelum bertolak ke Mineralnye Vody, pada tanggal 5 September 2011 mereka diterima Counsellor /Penanggung Jawab Fungsi Pensosbud M. Aji Surya dan Pelaksana Fungsi Pensosbud KBRI Moskow Sekretaris Kedua Lailal Khairiah Yuniarti dan Sekretaris Kedua Enjay Diana di KBRI Moskow.

M. Aji Surya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas tekad dan semangat yang besar serta kemandirian tiba di Rusia untuk menaklukan Elbrus. Ditambahkan bahwa pendakian Elbrus tidaklah mudah. Selain fisik, faktor cuaca sangat menentukan keberhasilan karena cuaca dapat berubah seketika, bahkan terkadang lebih ekstrem seperti badai salju yang tiba-tiba muncul.

Sebagai motivasi bagi pendaki tim STAN diambil contoh kegigihan Sabar, pendaki berkaki satu dari tim Ekspedisi Merdeka-RMOL Indonesia yang berhasil menaklukan Elbrus tanggal 17 Agustus 2011.

“Dilandasi semangat, keyakinan dan tekad yang besar, Sabar berhasil mencapai puncak Elbrus dengan tidak melihat keterbatasan fisik yang dimiliki. Kami berharap semoga tim STAN juga berhasil”, ujar Penanggung Jawab Fungsi Pensosbud KBRI Moskow.

KBRI Moskow melakukan komunikasi dengan tim STAN secara berkesinambungan. Pada tanggal 6 September 2011 tim pendaki sudah tiba di base camp Emanuel Glade, Dzhily-Su (2500 mdpl) atau sekitar 120 km dari kota Pyatigorsk. Selanjutnya mereka akan melakukan aklimatisasi yang diharapkan pada Hari Olahraga Nasional, 9 September 2011 bendera Merah Putih dapat berkibar di puncak Elbrus. 

Ditangan Mahasiswa Kulit Pisang Jadi Yoghurt




Setelah mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan cuka dari kulit pisang untuk menyeimbangkan mood, kali ini lima mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta turut membuat inovasi baru dari bahan baku serupa.


Ratna Wirawati, Manna Wassalwa, Zamzam Fatma Ambarsari, Feby Kristifany, dan Anita Setyorini, menciptakan sebuah produk makanan yang saat ini cukup digemari oleh berbagai kalangan dan usia yakni yoghurt.


Gagasan ini timbul dari kepedulian para mahasiswi jurusan pendidikan IPA Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) UNY terhadap limbah kulit pisang yang belum dimanfaatkan secara optimal.


"Kami memilih kulit pisang untuk dijadikan yoghurt, karena selama ini kulit pisang hanya menjadi limbah dari pedagang gorengan dan dianggap sebagai sampah yang tidak ada manfaatnya. Padahal itu dapat diubah menjadi komoditas yang menjanjikan," kata Ratna seperti dikutip dari laman UNY.


Selain mengurangi produksi limbah serta bahan baku yang tergolong murah meriah, yoghurt kulit pisang ini juga kaya akan manfaat. "Kulit pisang mengandung karbohidrat sebesar 18,50 persen vitamin C, vitamin B, kalsium, protein, lemak, pektin, dan air sebanyak 68,90 persen," ujar Manna.


Bahkan, lanjut Manna, produk ini sangat baik bagi mereka yang tengah melakukan diet. "Pisang sangat baik untuk diet karena mengandung kolesterol, lemak, dan garam yang rendah. Selain itu, kandungan potassiumnya sangat berguna untuk mereka yang berada dalam proses pertumbuhan," tutur dara berkerudung ini menjelaskan.


Zamzam mengungkapkan, produk buatan mereka hanya dibuat dalam satu varian, yaitu rasa asli pisang. "Kami tidak menggunakan perasa dan hanya membuat produk ini dalam satu rasa, yakni rasa asli pisang," katanya.


Kulit pisang yang digunakan, katanya, adalah yang terletak pada bagian dalam. "Kami mengumpulkan limbah kulit pisang, lalu mengupas bagian dalam kulit pisang dan menghaluskannya dengan menggunakan mixer," katanya menerangkan.


Sementara untuk proses pembuatan, tidak ubahnya dengan pembuatan yoghurt pada umumnya yang mengalami proses sterilisasi dan pasteurisasi.

IPK Nyaris Sempurna, Putri Tukang Becak Dapat Beasiswa


Siapa sangka, putri dari seorang penarik becak bisa mencetak Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna. Raeni merupakan salah satu dari ratusan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2010 yang memperoleh beasiswa Bidik Misi.


Mahasiswi Fakultas Ekonomi Unnes, jurusan Pendidikan Ekonomi Akuntasi tersebut mencetak IPK senilai 4,00 dari skala 4,00. Tidak hanya sebuah prestasi yang membanggakan, tetapi juga sempurna.


Meski semester berikutnya mengalami penurunan menjadi hanya 3,98, prestasi yang diukir Raeni dinilai membanggakan. 


Terhadap prestasi tersebut, Rektor Unnes Sudijono memberikan apresiasi. Selain melakukan kunjungan baru-baru ini, rektor juga memberikan pengharagaan secara khusus kepada para penerima beasiswa Bidik Misi.


"Kami memang merasa berkewajiban untuk mengawal Beasiswa Bidik Misi. Tidak hanya supaya tepat sasaran, tetapi juga agar penerimannya selalu memiliki motovasi untuk terus berprestasi selama studi," kata Sudijono, seperti yang dikutip dari situs Unnes, Minggu (28/8/2011).


Unnes sendiri, lanjutnya, telah mengucurkan 400 beasiswa Bidik Misi tahun lalu, unutk semua angkatan 2010. "Pengucurannya terus berjalan, tahun ini kuota untuk mahasiswa baru bertambah menjadi 450 mahasiswa. Bahkan belakangan bertambah menjadi seribu, sehingga mtotalny menjadi 1450," paparnya.


Pengajuan seribu beasiswa Bidik Misi, menurut Sudijono, sebelumnya telah diajukan ke Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), "Alhamdulillah permohonan kami diluluskan," tutup Sudijono.


Untuk diketahui, Bidik Misi merupakan beasiswa yang dikucurkan oleh Kemendiknas. Penerima beasiswa tersebut bebas biaya kuliah selama empat tahun atau delapan semester. Tidak hanya itu, Bidik Misi juga memfasilitasi biaya hidup senilai Rp500 ribu per bulan. 


Beasiswa itu diperuntukkan bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu secara ekonomi namun berprestasi tinggi.

Mahasiswi Leicester College Sulap Bungkus Makanan Jadi Baju

Mahasiswa Leicester College, Inggris, Rebekah Kirkland menjahit ratusan bungkus makanan menjadi sebuah gaun panjang sebagai proyek di tahun terakhirnya berkuliah.


Dia menaruh sebuah kotak di kampusnya guna mengumpulkan berbagai bungkus makanan dari teman-temannya.


Proyek ini, kata Kirkland, terasa sangat membosankan. "Tadinya proyek ini terasa membosankan. Namun setelah melihat hasilnya terasa sangat setimpal," ujarnya seperti dikutip dari BBC London.


Gaun dengan panjang semata kaki tersebut membutuhkan dua bulan untuk selesai. Bahkan, gaun dengan nuansa warna-warni tersebut berhasil meraih penghargaan The College's Sustainable Design Award 2011.


Kirkland menambahkan, proyek tersebut merupakan inovasi baru dalam dunia fesyen yang dapat ditiru oleh para desainer lainnya. "Proyek ini mengajak masyarakat pecinta fesyen untuk mengurangi limbah dan menjadi bahan baku untuk baju," ujarnya menerangkan.


Proyek ini, lanjutnya, berdasarkan ketertarikannya terhadap dunia fesyen dan kepedulian untuk mendaur ulang sampah. "Saya tertarik dengan kegiatan mendaur ulang, maka saya ciptakan sebuah busana dari sampah yang tetap memiliki nilai seni," katanya.


Semua bungkus makanan yang telah terkumpul dalam kotak yang disediakan, dia cuci terlebih dahulu hingga bersih. Kemudian, semua bungkus yang telah bersih dijahit dengan menggunakan mesin jahit sesuai dengan pola baju yang telah dibuat.


Setiap kotak pada busana tersebut membutuhkan tiga bungkus makanan. "Setiap kotak di baju tersebut terdiri dari tiga bungkus makanan berukuran tebal karena saya tidak ingin baju tersebut mudah robek," ujarnya.


Pihak kampus, Roy Morgan-Wood mengungkapkan, hasil karya Rebekah akan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat luas. "Desain Rebekah ini akan mendorong masyarakat untuk memanfaatkan limbah bungkus makanan yang mereka konsumsi dengan cara yang berbeda," katanya.


Baju ciptaan Rebekah ini dibuat sesuai dengan ukuran temannya yang menjadi model dalam pagelaran busana. Maka, baju tersebut hanya akan bisa digunakan oleh temannya saja.


"Saya tidak akan pernah membuang gaun tersebut karena baju tersebut merupakan hasil kerja keras saya," tuturnya.(rhs)

Mahasiswa ITB Garap Pembangkit Listrik Cihurip



Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Cihurip, Garut. Hasil kerja sama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan warga setempat, kini penerangan jalan dusun tersebut tidak lagi dirudung gulita.

Sebelum sukses membangun PLTMH bersama dengan para warga, mahasiswa peserta KKN memulai proyek tersebut dengan seumlah tahap. Salah seorang peserta KKN, Laurentius Radit Nindito mengatakan, pembangunan PLTMH mereka mulai dari perencanaan dan optimalisasi desain PLMTH.

“Setelah perancangan selesai, bersama warga kami mulai membangun rumah generator dan pemasangan tiang-tiang listrik pada minggu terakhir kegiatan KKN,” kata Radit, seperti yang dikutip dari situs ITB, Selasa (26/7/2011).

Walaupun tiang-tiang penyangga terbuat dari bambu, lanjut Radit, tetapi cukup untuk menerangi jalan di dusun tersebut.

Pembangunan PLTMH ini  merupakan penyempurnaan dari proyek Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI) ITB yang telah dikerjakan Desember lalu. “Kemudian pembangunan PLMTH disempurnakan oleh mahasiswa KKN, warga dan delapan dosen pembimbing,” lanjut Radit.

Ide awal dari pembangunan ini, menurut Radit, muncul ketika melihat potensi alam desa Cihurip yakni berupa sungai yang ketika diukur, ternyata berpotensi menjadi penghasil listrik.

Atas pembangunan PLMTH tersebut, warga desa mengaku sangat terbantu. Kepala desa (Kades) Cihurip Asep Gozali mengatakan, kegiatan KKN dan pembangunan PLMTH banyak memberi manfaat kepada masyarakat.

“Rasanya seperti mimpi. Biasanya kalau keluar rumah di malam hari sangat gelap. Sekarang sudah terang, untuk iut kami ucapkan beribu terima kasih,” kata Asep penuh syukur.

Dengan terpasangnya lampu penerangan jalan, PLTMH tersebut berhasil bekerja dengan baik. Rektor ITB Akhmaloka pun langsung datang ke Cihurip untuk meresmikan PLTMH karya mahasiswanya tersebut pada Minggu 24 Juli.

Antiskimmer Mahasiswa FMIPA UGM



Pernah mengalami atau mendengar cerita kerabat dekat mengenai saldo tabungannya yang begitu saja terkuras tanpa digunakan sama sekali?

Kasus pembobolan melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM) memang marak terjadi dan menimpa siapa saja. Namun, kini kita tidak perlu merasa khawatir lagi. Pasalnya, mahasiswa Fakultas Matematika dan IPA Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM) Yogyakarta telah menemukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Kelima mahasiswa ini menciptkan sebuah alat yang telah dinilai cukup ampuh untuk mencegah pembobolan ATM, baik melalui mesin pencuri identitas kartu (ATM Skimmer) maupun pencurian lewat perusakan ATM.

Alat ini mampu mengirim pesan pendek ke pihak kepolisian atau pihak perbankan dan memunculkan bunyi alarm apabila terdeteksi ada upaya tindak kejahatan di sebuah ATM.

Salah seorang pencipta alat ini, Christian Antonia menyebutkan, alat berukuran 10x10 cm yang dimasukkan ke dalam mesin ATM ini, dilengkapi sensor jarak jauh dan sensor infra merah. Sensor jarak dapat mengidentifikasi adanya perubahan posisi mesin ATM jika terjadi pencurian. Sementara sensor infra merah dapat mendeteksi adanya mesin pencuri identitas kartu.

"Jangankan ada kerusakan, jika posisi mesin ATM berubah 1 cm saja, alat ini akan membunyikan alarm dan mengirim pesan ke petugas," kata Christian seperti dikutip dari situs UGM.

Menurut Christian, selama ini keamanan di sebuah ATM yang hanya mengandalkan CCTV dan antiskimmer konvensional dinilai belum mampu mendeteksi dan mencegah tindak kejahatan.

Mahasiswa berusia 21 tahun ini mengungkapkan, untuk menguji alat temuan mereka di sebuah ATM, harus melewati birokrasi yang berbelit-belit. Bahkan pihak bank menganggap remeh hasil temuan para mahsiswa ini.

"Mungkin dianggap temuan orang Indonesia dan masih mahasiswa sehingga belum dipercaya," kata mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer dan Elektronika ini.

Alat yang belum sempat diberikan nama ini, memakan waktu empat bulan dalam proses pengerjaannya. Christian berharap, penemuan mereka yang seharga Rp3,5 juta ini dapat dimanfaatkan pihak bank dalam mencegah tindak kejahatan yang dapat merugikan nasabah.

"Jadi tidak ada lagi orang yang seenaknya mencuri data nasabah dan menggunakan uang yang bukan miliknya,"

Investasi Mahasiswa

Saat nya yang muda memahami apa sebenarnya itu investasi, kesempatan kali ini Cupid hadirkan sebuah artikel mengenai apa sich INVESTASI itu..?? Sadar bahwa mahasiswa , Hidup nya bukan untuk kuliah saja, tapi mulai lah dari diri sendiri untuk sekedar tahu , dan melakukan aksi tentu nya. urusan tentang masalah kehidupan finansial kelanjutanya setelah Lulus Dari Perkuliahan.


“Beranikah saya mengambil risiko dalam berinvestasi?” Pertanyaan ini mungkin sering terlontar bila Anda sedang menimbang-nimbang untuk melakukan investasi. Katakan Anda punya uang Rp 10 juta, dan Anda bingung apakah akan menaruhnya di bank atau di tempat lain. Kalau ditaruh di bank, Anda mungkin merasa aman. Tetapi kadang-kadang, tawaran investasi di tempat lain seringkali cukup besar dan sangat menggoda, sehingga ini kadang-kadang menakutkan Anda.


Yang namanya investasi pasti ada risikonya. Nah, dari pengalaman saya selama ini, biasanya hanya ada tiga (3) risiko yang paling ditakutkan orang ketika mereka berinvestasi:


Turunnya Nilai Investasi
Risiko yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi umumnya adalah “Apakah uang saya akan hilang?” Kebanyakan orang mungkin menjawab “tidak” kalau ditanya seperti itu. Iyalah, mana ada, sih orang yang mau kehilangan uangnya? Akan tetapi, masalahnya, yang namanya risiko pasti ada dalam setiap investasi. Hanya bedanya adalah di ukurannya. Ada produk investasi yang risikonya cukup besar, ada yang sedang, ada yang kecil. Itu mungkin butuh pembahasan yang khusus di NOVA nomor-nomor mendatang. Yang jelas, satu hal yang paling ditakuti orang, sekali lagi adalah: “Apakah uang saya akan hilang?”


Oke, sekarang kalau Anda berinvestasi, seberapa besar penurunan nilai yang bersedia Anda tanggung bila Anda mengalami kerugian? 10 persen? 30 persen? 50 persen? Atau 100 persen? Berapapun besar kerugian yang bersedia Anda tanggung, ingatlah, itu adalah bagian dari berinvestasi. Jangan pernah mengharapkan Anda akan terus-menerus untung. Yang namanya kerugian, sesekali memang harus dialami. Kalau enggak mengalami, ya enggak belajar, kan?


Sulitnya Produk Investasi itu Dijual


Risiko kedua yang paling ditakuti orang ketika berinvestasi adalah apakah produk investasi yang dibelinya itu mudah untuk dijual kembali. Beberapa orang mungkin senang berinvestasi ke dalam emas karena emas dianggap mudah dijual kembali. Akan tetapi, ada juga orang yang berinvestasi ke dalam mata uang dolar Amerika, dan dolar tersebut cepat-cepat dimasukkannya ke bank. Ini karena bila dolar itu disimpan di lemari, maka kondisi fisik dari kertas uangnya mungkin akan menurun, dan itu kadang-kadang akan menyulitkan bila suatu saat dolar itu hendak dijual kembali. Maklum, beberapa bank seringkali tidak mau membeli mata uang asing Anda bila kondisi uang kertasnya robek, rusak atau kumal.
Contoh lain dari produk investasi yang tidak selalu mudah untuk dijual kembali adalah barang-barang Koleksi. Barang-barang koleksi umumnya tidak selalu mudah dijual kembali karena pasar pembeli barang-barang ini sangat spesifik. Lukisan misalnya. Karena pasarnya yang spesifik, tidak selalu mudah menjual lukisan. Tapi, sekali terjual, bisa saja harganya sangat tinggi dan memberikan untung yang lumayan buat orang yang menjualnya.




Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi, ketahui lebih dulu seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Jangan sampai Anda berinvestasi tapi tidak bisa menjualnya, karena barangnya memang sulit dijual.


Hasil Investasi yang Diberikan Tidak Sebesar Kenaikan Harga Barang dan Jasa
Bayangkan kalau Anda berinvestasi di deposito yang memberikan bunga 10 persen setahun, sedangkan dalam setahun harga barang dan jasa malah naik 15 persen? Hal ini seringkali terjadi, bukan karena terlalu tingginya kenaikan harga barang dan jasa, tetapi karena produk yang dipilih itu sendiri belum tentu sesuai.
Iya dong, beberapa dari Anda mungkin menginginkan produk investasi yang aman dan konservatif. Tetapi, konsekuensinya adalah bahwa Hasil Investasi yang didapat mungkin saja tidak bisa menyamai kenaikan harga barang dan jasa. Kalau itu terus Anda alami dari tahun ke tahun, maka Anda akan bangkrut.


Apa yang harus Anda lakukan untuk menghadapi risiko ini? Jangan menutup diri terhadap informasi. Pelajari produk-produk investasi lain yang mungkin Anda belum tahu, dan setelah itu cobalah masuk ke situ dengan mempertimbangkan segala konsekuensinya. Lama-kelamaan, Anda pasti bisa mengatasi tingginya kenaikan harga barang dan jasa dengan berinvestasi pada produk yang memang berpotensi untuk bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding kenaikan harga barang.


Selamat berinvestasi!




Materi Ngawur Tidak Pada Tempat nya........

Overclocking Ala Mahasiswa Fakultas Teknik Unitomo


anak bangsa di bidang ilmu pengetahuan terus tumbuh berkembang. Seorang mahasiswa Universitas Dr Soetomo (Unitomo) Surabaya, Jawa Timur, berhasil menyulap kerja komputer yang semula lemot atau lambat menjadi supercepat.

Mahasiswa yang memiliki kreativitas tinggi itu adalah Bondan Arliado. Mahasiswa semester akhir ini bahkan pernah menjadi juara ketiga dalam lomba merangkai komputer di Yogyakarta pada 2010. Untuk menularkan ilmunya, Bondan tidak segan-segan berbagi kepada mahasiswa-mahasiswa lainnya, termasuk siswa dari beberapa SMA/SMK di Surabaya.

Tidak jarang dalam acara pertemuan dengan siswa SMA/SMK, dia mendemonstrasikan karya temuannya yang bisa mempercepat daya kerja komputer. Bondan menceritakan kegemaran menekuni bidang elektronik tersebut berawal dari tingginya penggunaan komputer yang sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat.

Hampir setiap hari aktivitas masyarakat selalu berhubungan dengan komputer. Karena itu, komputer tidak boleh lemot dan harus bisa bekerja cepat seiring kebutuhan hidup. Akhirnya muncul ide untuk mengubah kinerja komputer agar lebih cepat. Menurut Bondan, caranya cukup mudah.

Tidak perlu membeli peralatan tambahan yang mahal, tapi dengan melakukan overclocking. “Caranya dengan meningkatkan frekuensi prosesor melalui Bios,” ucap Bondan. Dengan cara ini, kinerja komputer bisa mencapai 7 Gigahertz (GHz).

Mahasiswa jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Unitomo ini menjabarkan, prosesor yang ditanam dalam semua komputer pada dasarnya sama. Hanya tipenya yang berbeda. Pabrikan membuat prosesor semuanya berbentuk wafer dan dipotong-potong. Setiap potongan itu sama kapasitas dan kemampuannya. Prosesor itu kemudian disesuaikan dengan komponen lain saat dipasangkan dalam rakitan komputer. Namun, keberadaan prosesor itu masih bisa diutak-atik untuk bisa mendongkrak kinerja komputer.

Caranya yakni melalui setting Bios. Di situ nanti bus prosesor dan multiplayer-nya ditingkatkan untuk bisa mendongkrak frekuensi kecepatan dari prosesor sehingga kinerja komputer bisa lebih maksimal. Bondan mencontohkan, untuk komputer dengan kapasitas prosesor 3 GHz memiliki perhitungan 200 bus prosesor X 15 multiplayer.

Angka pada bus prosesor dan multiplayer itu bisa ditingkatkan. Meski begitu, Bondan juga mengingatkan untuk melakukan perubahan pada sistem kelistrikan. Voltasi pada komputer harus ditingkatkan. Jika tidak dilakukan, itu bisa merusak komputer. ”Peningkatan dilakukan untuk menjaga kestabilan kinerja komputer,” ungkapnya.

Menurutnya,cara peningkatan kerja komputer dengan metode overclocking ini sangat aman dan tidak akan merusak komputer. Jika overlock gagal, tidak akan membakar komputer. Komputer hanya mengalami hang atau gagal booting. Namun, efek yang dialami komputer adalah sering panas dan ada penambahan daya yang cukup tinggi.

Kepiawaian Bondan dalam sistem overclocking ini telah diakui secara nasional hingga internasional. Karya-karyanya pernah ditunjukkan di Yogyakarta, dan hasilnya diakui bisa memunculkan terobosan baru untuk tingkat nasional. Dengan kepandaiannya itu, mahasiswa murah senyum ini bertekad akan menularkan kepada mahasiswa atau siswa lain yang berminat.

Bondan juga menceritakan dirinya merupakan salah satu pemecah rekor overclocking tercepat dengan catatan 7 GHz dalam Forum Overclockking Internasional di website www.haweboth.org. Di website tersebut terdapat karya-karya miliknya.